KEHIDUPAN DI BALIK ONDEL - ONDEL JALANAN
Jakarta - Nyaringnya suara musik khas Betawi dari pengeras suara kecil di gerobak dan sosok boneka raksasa bernama ondel - ondel
memecah konsentrasi pengguna jalan malam itu. Arif dan tiga temannya
yang masih di bawah umur menyusuri jalan sekitaran Depok hingga
Cijantung, Jakarta Timur.
Mereka sengaja mengusung kesenian Betawi tersebut untuk mengamen
beberapa bulan ini di rute yang sama setiap harinya. Menurut mereka,
metode ini lebih menguntungkan ketimbang mengamen biasa, seperti membawa
kecrekan misalnya.
Arif mengaku dapat memperoleh uang Rp 400.000 dalam beberapa jam. "Tiap hari keliling gini, kadang dari siang abis Zuhur, kadang dari
sore sampai malam jam 9-an. Ondel-ondelnya dapet nyewa di daerah Depok
2. Sehari nyewa bayar Rp 120 ribu," ujar Arif.
Jika dikurangi uang sewa, rata-rata mereka mendapat bagian Rp 50.000
per orang. "Lumayan per orang dapatnya bisa 50 ribuan-lah. Uangnya
sebagian buat bantu orangtua di rumah, sebagian buat nambah jajan," kata
Arif.
Ketika menjalankan "usahanya" tersebut, Arif bertugas mendorong gerobak sound system, dua temannya sebagai pengumpul uang mengamen, dan satu temannya lagi menggunakan ondel - ondel.
Selama menjadi pengamen jalanan, Arif bercerita, banyak orang atau
anak kecil yang minta berfoto dengan ondel-ondelnya. Dia merasa semua
orang senang dengan kehadiran ondel-ondel jalanan. Bahkan, dia
berceloteh jika tak pernah kena palak preman maupun Satpol PP.
"Seneng tiap ngamen orang-orang ngasih
duit. Anak kecil juga banyak yang minta foto, dari situ dapat duit deh
dari orangtua tuh anak. Tiap hari rutenya sama, istilahnya udah hafal
daerah-lah. Udah gitu wilayah Kalisari-Depok aman, enggak ada preman apa
enggak Satpol PP," tutur Arif.
Bagai dua sisi mata uang, mengamen ondel-ondel seperti yang Arif lakukan ini memiliki sisi negatif dan positif.
Positifnya, dia dapat membantu perekonomian keluarga. Namun, di sisi
lain ada fakta sedih di balik pengamen ondel-ondel. Arif dan
kawan-kawannya yang duduk di bangku sekolah dasar dan menengah nyatanya
telah putus sekolah. Alasannya, karena keadaan ekonomi, sehingga
menyebabkan mereka malas untuk melanjutkan sekolah. Mirisnya kedua
orangtua Arif masih lengkap. Namun, ayahnya tak lagi bekerja.
"Orangtua masih ada, sehat dua-duanya. Ngamen gini buat bantu orangtua, ya daripada nganggur di rumah, kan, mending ngamen dapet duit," tutur Arif.
Banyak pemerhati budaya Betawi yang menyayangkan kegiatan seperti yang dilakukan Arif dan kawan-kawannya. Mengamen ondel - ondel ini dianggap telah melukai budaya Betawi.
"Tahu sih, ini katanya bikin jelek budaya Betawi, tapi kita bisa apa?
Sekarang buat kita yang penting bisa cari duit," ujar Arif yang disusul
anggukan setuju kawan-kawannya.

Komentar
Posting Komentar